Jahja Setiaatmadja : Setiap pekerjaan yang Anda lakukan akan menjadi investasi Anda untuk masa depan


Jahja Setiaatmadja, lahir di Jakarta 14 September 1955. Pada kesempatan Studium Generale di ITB lalu ia sempat bercerita tentang sedikit riwayat hidupnya. Jahja lahir dari keluarga yang sangat sederhana dimana ayahnya merupakan kasir di Bank Indonesia. Meskipun bekerja di Bank Indonesia, gaji yang diterima sang ayah hanya pas-pasan untuk hidup.

Mengambil Hikmah di Setiap Kejadian

Pada masa kecilnya sewaktu SD, Jahja muda pernah terkena musibah, waktu itu matanya kemasukan pecahan kacamata akibat dilempar batu oleh temannya, setelah pergi berobat bersama orang tuanya, dokter mengecek kondisi matanya, pengangkatan pecahan beling sudah dilaksanakan namun ada hal yang lebih membahayakan lagi, dokter mengatakan bahwa Jahja muda ternyata telah lama terkena trachoma, sebuah penyakit yang tidak akan diketahui oleh Jahja muda dan keluarganya jika tidak mengecek kondisi mata nya pada saat itu. Wajar saja penyakit ini memang tidak dapat diketahui dari awal Karena efeknya baru muncul pada saat penyakitnya sudah membesar, dan efek dari penyakit ini adalah kebutaan, dan Jahja sangat bersyukur terkena pecahan beling tersebut sehingga ia bisa mencegah matanya terkena penyakit trachoma yang lebih serius dan bisa sesegera mengobatinya dari dini.

Awalnya ingin jadi dokter

Semasa SMA, Jahja menginginkan untuk masuk ke jurusan Kedokteran Gigi, namun orang tuanya menolak Karena tidak memiliki uang yang cukup untuk mengkuliahkannya, Jahja setelah itu beralih pilihan ke Teknik, awalnya Ia mau masuk Teknik di ITB, tapi sekali lagi biaya menjadi kendala. Baru lah akhirnya ia memilih kuliah dengan jurusan yang agak “terjangkau” secara keuangan dimasa itu, akhirnya dia memilih Ekonomi UI. Setelah masuk ke Jurusan Ekonomi UI ternyata ia mendapati banyak anak IPA yang sukses disana, Karena menurut dia jurusan ekonomi itu intinya logika

Bentuk networking sejak Kuliah

Hal yang paling penting selama perkuliahan menurut Pak Jahja adalah networking, buatlah sebanyak mungkin jaringan pertemanan yang bisa kita bikin semasa kuliah, teman beda jurusan, beda fakultas, bahkan beda universitas akan sangat berguna dimasa yang akan datang. “jangan kutu buku, soalnya ga kepake saat di dunia kerja”. Karena menurut Pak Jahja, dunia kuliah dan dunia kerja itu sangat berbeda, pada saat di dunia kerja kita tidak terlalu memakai banyak ilmu yang dipelajari semasa kuliah, namun lebih banyak lagi ilmu yang akan kita timba semasa kerja itu.
Pak Jahja juga menilai bahwa organisasi di perkuliahan itu hendaknya dijalani dengan sepenuh hati, ia menilai orang yang berhasil di organisasi non profit adalah orang-orang yag hebat.  “kalo bisa berhasil di organisasi non profit, maka untuk memimpin perusahaan profit akan gampang banget, karena organisasi non profit itu butuh pendekatan melalui hati ke hati, sementara organisasi profit pake otak atau uang aja bisa”



Dari bawahan harus tekun

Tahun pertama beliau kerja adalah sebagai junior accountant di sebuah perusahaan, namun sebenarnya dia yang masih fresh graduate sama sekali tidak bekerja sesuai dengan predikat nya, lulusan Jurusan Ekonomi UI, ia lebih sering ditugaskan hanya untuk memfotokopi berkas-berkas dari atasan, namun dari sini lah pembelajaran itu dimulai bahwa kita harus tekun bekerja walaupun hanya sekedar memfotokopi berkas.


Gaji penting, tapi ilmu jauh lebih penting

Pak Jahja menekankan bahwasanya gaji itu tidak bisa dikatakan tidak penting, tetap gaji itu penting, tapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu ilmu. Dalam mentargerkan sesautu, nilai kesuksesan jangan hanya terfokus pada event, tapi harus menjalani proses, instant itu tidak bagus. Contohnya pada tanaman  yaitu toge dan pohon, toge itu tumbuhya cepat tapi ia sangat lemah dan loyo, beda dengan pohon, ia tumbuh dalam proses yang lama dan bersifat sangat kuat dan lebih tahan.

Kegagalan itu adalah proses yang mendewasakan

Selama karirnya yang telah panjang ini, Pak Jahja telah sering sekali menemui kegagalan-kegagalan dalam hidupnya, baik itu kehidupan pribadinya maupun dalam karir bisnisnya, sebagai pemimpin, jika ada masalah langsung cari jalan keluar yang kreatif, jangan menyalahkan orang lain, karena apapun yang terjadi setiap keputusan yang dibuat perusahaan adalah 100% tanggung jawab pimpinan




Post a Comment