Youtube Lebih dari TV?

Youtube dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi fenomena yang luar biasa di dunia sosial media, kelebihan yang dimiliki youtube sendiri membuat situs video steaming ini memiliki statistik traffic yang sangat tinggi, terbanyak ke 2 secara global mengalahkan facebook.com dan hanya kalah oleh google.com

kalimat "Youtube lebih dari TV"  saya ambil dari youtuber Jovial Da Lopez dalam penggalan lagu SWAG, melihat fenomena yang nyata terjadi saat ini.
mengakses situs youtube sudah seperti kebutuhan primer pengguna internet di seluruh dunia, terutama bagi kalangan muda. Youtube bukan hanya sebagai tempat berbagi video saja, dewasa ini youtube bertransformasi menjadi situs yang hampir menyediakan segalanya, kita bisa belajar online, live streaming, menonton film, blog, parody atau hanya sekedar mendengar musik saja.
Hal inilah yang menyebabkan banyak youtuber-youtuber muda Indonesia bermunculan beberapa tahun belakangan ini, bagi mereka youtube bukan sekedar wadah untuk unjuk gigi, pamer, ataupun eksis, jauh dari itu youtube telah menjadi ladang mata pencaharian mereka, dimana uang yang mereka dapatkan bisa dibilang sangat menggiurkan.

Perlahan demi perlahan kehadiran youtube mulai mengganggu eksistensi tayangan yang ada di Televisi, terutama di daerah perkotaan, saat ini anak muda lebih mengenal artis-artis youtube daripada artis-artis sinetron di televisi. Dan dibalik itu semua, kunci sukses kenapa youtube lebih populer saat ini adalah karena faktor "kebebasan" yang disediakan oleh Youtube itu sendiri.
Kita mungkin masih familiar dengan kondisi stasiun televisi yang men-sensor secara terlalu berlebihan, seperti menyensor perenang yang ditampilkan pada saat PON kemaren, robot yang disensor, bahkan anehnya lagi binatang juga disensor. Hal inilah yang membuat minat orang terhadap televisi berkurang, secara naluriah, manusia itu cenderung suka melihat suatu hal itu secara murni, tanpa ada settingan dan lain sebagainya.

Nah, satu kata menarik yang perlu dikaji lebih lanjut; settingan
Bukan rahasia umum lagi bahwasanya hampir semua hal yang kita lihat di televisi itu penuh dengan settingan, bahkan acara yang mengusung nama "reality show" tak lain hanyalah untuk meningkatkan animo masyarakat sekaligus penarik minat, semuanya tetap dalam satu koridor settingan. Hal inilah yang membuat masyarakat mulai berpindah haluan ke Youtube, tampilan video Youtube hadir dalam kemasan yang lebih blak-blakan dan memang apa adanya, walaupun memang ada beberapa video youtube yang memiliki settingan penuh drama.

Di televisi kita dipaksa untuk menonton apa yang disediakan oleh channel yang kita tonton, dan hal yang paling mengesalkan adalah adanya kepentingan politik dalam setiap acara yang ditampilkan, kita masih sangat familiar dengan beberapa channel yang pro Jokowi ataupun pro Prabowo pada saat pemilu tahun 2014 lalu, dan bagaimana channel tv tersebut mendesain media massa untuk mendoktrin bahwa pasangan yang satu lebih baik dari yang lain. Beragam acara, iklan, bahkan berita pun muncul secara tidak netral, sesuatu yang sangat disayangkan mengingat berita bukan lagi menampilkan apa yang benar-benar terjadi, tapi apa yang benar-benar menguntungkan pihak penayang berita.

Kekecewaan masyarakat terhadap televisi nasional membuat mereka berpindah haluan ke Youtube, walaupun dari segi kualitas teknis video-video Youtuber Indonesia masih banyak yang belum sebagus acara televisi, namun secara konsep dan isi video Youtube jauh lebih bermanfaat dan menghibur, dan sekarang dapat kita lihat sendiri betapa banyaknya Youtuber Indonesia yang bermunculan dan mulai mengambil alih peranan televisi secara perlahan-lahan. Trendsetter sekarang lebih banyak dihasilkan oleh youtuber ketimbang artis-artis di televisi, fenomenal mie samyang dan challenge lainnya merupakan contoh betapa kuatnya pengaruh youtube dalam media periklanan.

Youtube masih akan terus berkembang hari demi hari, sedangkan televisi terlalu terlena dalam kesuksesan masa lalu, dan mereka yang akan bertahan hanyalah mereka yang mampu menyesuaikan zaman, mampukah media televisi berbenah agar eksistensi mereka tetap bertahan? dan tidak ditinggalkan pelanggannya sebagaimana banyak penikmat radio yang berpindah ke televisi di masa lampau? hanya waktu yang akan menjawabnya. 

Post a Comment